Iran Kehilangan Taring, Sekutu Mulai Membangkang & Tidak Satu Komando

Jakarta, CNBC Indonesia – Selama bertahun-tahun, pejabat Iran menggaungkan istilah "Poros Perlawanan" (Axis of Resistance), merujuk pada jaringan sekutu dari Beirut hingga Sana'a yang akan bersatu menghadapi musuh bersama. Namun, ketika Iran diserang dua kali dalam 15 bulan terakhir, masing-masing kelompok justru mengambil keputusan berbeda soal keterlibatan mereka dalam konflik.
Poros Perlawanan mungkin belum mati, tetapi merknya dinilai sudah lebih besar daripada kekuatan bisnisnya. Strategi Iran mendukung milisi Arab bermula sejak 1980-an, ketika Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengirim pasukan untuk melatih pejuang Hizbullah di Lebanon. Kelompok-kelompok tersebut dipandang sebagai pengganti kekuatan militer konvensional Iran yang relatif lemah.
Milisi-milisi itu berfungsi sebagai pertahanan garis depan, sekaligus menjadi alat proyeksi kekuatan Iran tanpa harus membawa perang langsung ke wilayah Iran. Namun, strategi tersebut jelas gagal menjalankan fungsi pertahanannya. Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 memicu rangkaian perang yang pada akhirnya membuat Iran sendiri menjadi sasaran serangan. Hizbullah dan Hamas kini melemah drastis.
Rezim Bashar al-Assad di Suriah telah tumbang, sementara pemerintah Irak memerintahkan kelompok-kelompok milisi untuk melucuti senjata paling lambat Oktober.




